Tugas Kuliah Menjadi Sumber Utama Stres dikalangan Mahasiswa

Penulis | Putri Susanti mahasiswa UMM.

Radarbangsatv.com | Setiap manusia pasti memiliki keluhan dalam hidupnya. Tidak terkecuali pada kelompok mahasiswa. Terkadang mahasiswa mengaku bahwa mereka pernah atau sering mengalami stres. Tidak jarang mahasiswa melontarkan kalimat “stres kuliah, lebih baik saya nikah saya” Guyonan ini cendrung mendefinisikan bahwa mahasiswa sudah dalam kondisi menyerah karena beban kuliah
Kondisi stres merujuk pada respons tubuh terhadap tekanan atau tuntutan yang dianggap berlebihan, melebihi kemampuan individu untuk mengatasi atau beradaptasi. Stres adalah suatu kondisi yang umum dialami oleh banyak orang dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari. Respon stres melibatkan sistem saraf otonom yang dapat menghasilkan perubahan fisik dan psikologis dalam tubuh.
Stres dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk tuntutan pekerjaan, tekanan akademis, masalah keuangan, konflik interpersonal, atau perubahan hidup. Reaksi stres dapat bersifat sementara (akut) atau berkepanjangan (kronis), dan setiap individu meresponsnya dengan cara yang unik.
Kondisi stress akibat banyaknya tantangan dan permasalahan hidup dapat menimpa siapa saja, termasuk mahasiswa. Kehidupan mahasiswa memang menyenangkan, namun bisa juga membuat stres dan membuat frustasi.
Kondisi stres bisa mulai dari urusan tugas kuliah yang tidak habis-habisnya, kewajiban magang tetapi belum ada institusi atau perusahaan yang menerima, keharusan menyelesaikan tugas akhir, ujian yang terus menghadang, hubungan pencintaan hingga masalah keluarga. Permasalahan lainya adalah bahkan setelah lulus di universitas, mareka tidak dapat mendapatkan pekerjaan karena ketidakamanan kerja.
Ketidakpastian tentang masa depan, terutama masalah pekerjaan setelah lulus, juga menjadi sumber paling mengkhawatirkan mahasiswa. Lulusan perguruan tinggi dan punya gelar sarjana tak menjamin mereka akan mudah mendapatkan pekerjaan. Hal ini yang membuat sekitar 21 persen responden stres. Apalagi data tingkat pengangguran terbuka yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Februari 2019 menunjukkan lulusan diploma dan universitas paling banyak menganggur, yaitu 13,13 persen, ketimbang lulusan tingkat pendidikan lainnya. Kekhawatiran akan masa depan ini dirisaukan 22,3 persen responden sebagai penyebab stres. Sementara masalah keuangan dan pertemanan hanya sebagian kecil menjadi pemicu stres.
Stres yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi siswa, baik secara fisik maupun mental. Topik manajemen waktu sangat penting bagi siswa agar tidak terkena stres terus menerus. Hampir 30% responden mengatakan bahwa tidak bisa mengatur waktu menyebabkan mereka stres. Rasa takut gagal dan takut mengecewakan orang tua juga menjadi stressor bagi siswa. Setidaknya 36,9% menyatakan pendapatnya.

Stres pada mahasiswa merujuk pada kondisi di mana mahasiswa mengalami tekanan atau tuntutan yang dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental mereka. Mahasiswa sering dihadapkan pada berbagai tugas akademis, tuntutan sosial, dan beban lainnya yang dapat menciptakan tingkat stres yang tinggi. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres pada mahasiswa melibatkan aspek akademis, pribadi, dan sosial. Berikut beberapa faktor yang umumnya dapat menyebabkan stres pada mahasiswa:
1. Tugas dan Ujian: Beban tugas kuliah, tenggat waktu yang ketat dan persiapan ujian yang menciptakan stres yang signifikan.
2. Tekanan Akademis: Harapan untuk mencapai tinggat prestasi tertentu dari pihak akademis, keluarga, atau dari diri sendiri dapat menciptakan tekanan tambahan
3. Ketidakpastian Masa Depan: Mahasiswa sering merasa cemas tentang apa yang akan terjadi setalah lulus, termasuk mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan.
4. Masalah Keuangan: Masalah keuangan, termasuk biaya kuliah dan kebutuhan hidup, dapat menjadi sumber stres.
5. Perubahan Hidup: Transisi ke ligkungan kuliah yang baru, perubahan rutinitas, dan berteman dengan orang-orang baru dapat menciptakan tingkat stres’
6. Kesehatan Mental: Kesehatan Mental yang buruk, seperti kecemasan atau depresi dapat memperburuk tinggat stress
7. Teknologi dan Media Sosial: Teknologi dan media sosial dapat menciptakan tekanan sosial dan perbandingan yang dapat meningkatkan tinggat stres.
8. Tuntutan Sosial. Mahasiswa mungkin merasa tertekan untuk menjaga kehidupan sosial bersosialisasi, dan memenuhi harapan sosial.
Mengatasi stres pada mahasiswa memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan perubahan gaya hidup, manajemen waktu, dukungan sosial, dan strategi koping. Berikut adalah beberapa cara yang dapat membantu mengatasi stres pada mahasiswa:
a. Atur Waktu dengan Baik:
 Buat jadwal studi yang teratur dan realistis.
 Prioritaskan tugas-tugas berdasarkan urgensi dan pentingnya.
 Sisihkan waktu untuk istirahat dan rekreasi.
b. Latihan Fisik:
 Lakukan olahraga secara teratur, seperti berjalan kaki, lari, atau yoga.
 Aktivitas fisik dapat membantu mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental.
c. Teknik Relaksasi:
 Pelajari teknik pernapasan dalam atau meditasi untuk meredakan stres.
 Cobalah teknik-progresif relaksasi otot atau visualisasi positif.
d. Istirahat yang Cukup:
 Pastikan Anda mendapatkan cukup tidur setiap malam.
 Kurang tidur dapat meningkatkan tingkat stres dan mengganggu konsentrasi.
e. Makan Sehat:
 Konsumsi makanan seimbang yang kaya nutrisi.
 Hindari terlalu banyak kafein, gula, dan makanan cepat saji.
f. Dukungan Sosial:
 Minta dukungan dari teman, keluarga, atau konselor.
 Jangan ragu untuk berbicara tentang perasaan Anda.
g. Tetap Terhubung dengan Hobi dan Kegiatan yang Menyenangkan:
 Temukan waktu untuk melakukan aktivitas yang Anda nikmati.
 Ini dapat membantu melepaskan tekanan dan memberi Anda kesenangan.
h. Pentingkan Keseimbangan Hidup:
 Jangan hanya fokus pada studi. Jaga keseimbangan antara akademis dan kehidupan sosial.
i. Kelola Perasaan Perfeksionisme:
 Tetap realistis tentang harapan dan tidak terlalu keras pada diri sendiri.
 Terima bahwa tidak selalu mungkin mencapai kesempurnaan.
j. Cari Bantuan Profesional:
 Jika stres terus berlanjut, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari konselor atau ahli kesehatan mental.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *