Anggota Media RadarbangsaTV Sidoarjo | Jangan Biarkan Marwah Jurnalistik Tercoreng Oleh Sesama Wartawan

Sidoarjo | – Dalam dunia jurnalistik kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: sesama wartawan saling menjatuhkan, bahkan tak segan sampai melakukan kriminalisasi ataupun pembunuhan karakter terhadap rekan seprofesi, fenomena ini kian marak dan mencoreng wajah pers yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran dan suara publik.(09/07/2025).

Di tengah derasnya arus informasi dan ketatnya persaingan antar media, sebagian oknum memilih menyerang pribadi ketimbang menyajikan karya jurnalistik yang berkualitas. Kritik yang semestinya membangun, berubah menjadi senjata untuk merusak reputasi.

Etika jurnalistik, yang selama ini menjadi fondasi profesi wartawan, kian tergerus oleh ego, kepentingan, dan persaingan tidak sehat. Padahal, wartawan sejatinya satu tubuh: berdiri bersama untuk menjaga integritas dan kepercayaan publik terhadap media.

“kalau wartawan sendiri tak bisa saling menghargai, lalu siapa lagi yang akan menjaga martabat profesi ini?”ungkapnya

Jangan biarkan marwah jurnalistik tercoreng. Sudah waktunya seluruh insan pers kembali pada komitmen dasar: menyampaikan kebenaran, menjunjung etika, dan menjaga kehormatan profesi. Karena ketika wartawan saling menghancurkan, yang hancur bukan hanya individu—tapi kepercayaan masyarakat terhadap media secara keseluruhan.

Wartawan atau Jurnalis merupakan pekerjaan yang mulia, sebagai corongnya Pemerintahan penyampai aspirasi masyarakat kepada Pemerintah dan juga kontrol sosial, bahkan wartawan merupakan pilar ke empat Demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Payung Hukum kita Berdasarkan UU No 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

“Sadarilah wahai rekan-rekanku tidak selamanya ego dan rasa ingin mengalahkan seseorang akan membuat hati tenang dan dihargai orang, jiwa yang bersih saling memaafkan dan tidak saling menjatuhkan adalah inti dari persaudaraan itu.

“Kalau kita memang menganggap kita satu profesi dan tujuan yang sama kenapa iri, dengki dan saling tikung menikung diantara kita dipupuk seakan akan sudah mendarah daging diantara kita jurnalis di tanah datar ini.

“Jika profesi kita ingin dihormati dan dihargai orang tentu kita harus menjaga marwah dan jati diri jurnalis tanah datar, yang dapat dilihat dari tabiat dan perilaku dan pola tindak tanduk yang dapat dilihat dari semua sisi kepribadian kita.

“Memang kita tidak ada yang sempurna, baik dari sisi manapun karena kesempurnaan itu hanya milik Allah, tetapi sadarilah wahai saudaraku se profesi bagaimanapun kita hebat menurut kita hari ini, karena setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.

“Ingatlah dan sadarilah wahai rekanku se profesi bukalah diri, tanya hati introspeksi diri siapa kita, apa tujuan dan harapan kita yang sama- sama punya kartu pers di tanah datar, mencari kawan kah atau mencari lawan atau ingin membunuh kawan, tanya hati kita, jawab sendiri.

“Saling mengingatkan, saling berbagi dan saling merangkul itulah inti persaudaraan sebenarnya. Wahai jurnalis Tanah Datar saatnya kita bergandeng tangan ,saling rangkul, tunjukkan dan lihatkanlah jiwa korsa kita agar semua orang bisa melihat siapa kita dan menghargai kita.

“Hilangkan perbedaan, media apa, organisasi apa dan perbedaan lainnya, intinya kita satu dibawah payung jurnalis yang sering di sebut dengan kuli tinta.

Tetap jaga hati dan persaudaraan. Salam satu pena.(Rohma)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *