BOJONEGORO — Kegiatan sound horeg di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, pada Sabtu dan minggu (5 – 6 September 2026. menyisakan persoalan yang kini menjadi sorotan warga.
Bukan hanya soal jalur yang dilalui kendaraan pengangkut sound berukuran besar. Sebuah jembatan di wilayah desa tersebut diduga sampai digempur atau dibongkar pada bagian sisi jembatan agar kendaraan pengangkut sound horeg bisa melintas.
Temuan ini mencuat setelah awak media melakukan penelusuran langsung ke lapangan.
Pada Sabtu (5/9/2026), awak media mendatangi kediaman Kepala Desa Bayemgede, Mu’in. Saat itu, Mu’in diketahui baru pulang menjalani opname karena kondisi kesehatan yang sedang sakit.
Dalam kondisi masih terbaring, Mu’in ditemui bersama istrinya. Dalam perbincangan, awak media kemudian menanyakan mengenai jalur yang akan digunakan kendaraan pengangkut sound horeg.
Di tengah percakapan, istri kepala desa justru menyampaikan adanya sebuah jembatan yang digempur karena kendaraan pengangkut sound horeg disebut tidak cukup untuk melewatinya.
“Ada juga jembatan yang digempur, Mas, karena tidak muat untuk dilalui kendaraan yang mengangkut sound horeg,” ujar istri kepala desa.
Pernyataan tersebut tidak berhenti sebatas percakapan. Awak media kemudian mendatangi lokasi jembatan yang dimaksud untuk melakukan pengecekan.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan adanya disisi jiri dan kanan bagian jembatan yang diduga telah digempur atau mengalami perubahan pada sisi tertentu.
Sejumlah warga yang berada di sekitar lokasi juga memberikan keterangan yang menguatkan dugaan tersebut.
“Iya, Mas. Ini jembatan sengaja digempuri oleh panitia karena ada sound horeg yang mau lewat, tidak muat,” ujar salah seorang warga sekitar jembatan.
Keterangan serupa disampaikan SML warga RT.04 saat ditemui di sebuah warung. Menurutnya, penggempuran dilakukan agar kendaraan pengangkut sound horeg dapat melintas.
“Sengaja digempuri, Mas, karena dilewati sound horeg tidak muat,” ungkap SML.
Jembatan Fasilitas Umum, Siapa yang Bertanggung Jawab?
Munculnya dugaan penggempuran jembatan demi kepentingan kendaraan sound horeg tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan serius.
Jika benar dilakukan untuk memberikan akses kendaraan berukuran besar, siapa yang memerintahkan dan siapa yang bertanggung jawab atas perubahan tersebut?
Apakah tindakan tersebut telah mendapatkan izin dari pemerintah desa maupun instansi yang berwenang? Lantas, bagaimana dengan kondisi dan keamanan jembatan setelah dilalui kendaraan dengan beban besar?
Pertanyaan tersebut penting dijawab karena jembatan merupakan bagian dari fasilitas publik yang digunakan masyarakat.
Jangan sampai kepentingan sebuah kegiatan hiburan justru meninggalkan persoalan terhadap fasilitas umum dan keselamatan warga.
Panitia Diminta Beri Penjelasan
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari panitia kegiatan sound horeg terkait dugaan penggempuran jembatan tersebut.
Begitu pula belum ada penjelasan mengenai apakah tindakan tersebut dilakukan dengan izin atau atas sepengetahuan pihak berwenang.
Media ini memberikan ruang seluas-luasnya kepada panitia, Pemerintah Desa Bayemgede, maupun pihak terkait untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab.
Sebab, jika dugaan tersebut benar, persoalannya bukan lagi sekadar soal sound horeg, melainkan menyangkut penggunaan dan perubahan fasilitas umum untuk kepentingan sebuah kegiatan.
Masyarakat pun berhak mengetahui siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana kondisi jembatan tersebut setelah kegiatan selesai.





