Bojonegoro | Rencana gelaran Sound Horeg di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro, pada 5–6 September 2026, menuai sorotan tajam dari warga sekitar.
Kegiatan yang sedianya menjadi hiburan masyarakat tersebut justru memunculkan sejumlah pertanyaan. Salah satunya terkait informasi mengenai biaya perizinan yang disebut-sebut mencapai Rp25 juta.
Tak hanya soal perizinan, warga juga dibuat geger dengan kondisi akses menuju lokasi. Bagian sisi jembatan yang berada di jalur yang akan dilalui kendaraan pengangkut perangkat Sound Horeg disebut digempur atau dihancurkan, diduga agar kendaraan pengangkut sound berukuran besar dapat melintas dengan lebih leluasa.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius lantaran jembatan yang dimaksud disebut merupakan fasilitas umum dan aset pemerintah.
Warga mempertanyakan siapa yang memberikan izin terhadap perubahan kondisi jembatan tersebut. Mereka juga meminta agar pemerintah maupun instansi teknis terkait memastikan apakah tindakan tersebut telah melalui prosedur dan mendapatkan persetujuan resmi.
“Ini akan ada Sound Horeg, tapi kok malah merusak fasilitas umum. Ini jembatan aset pemerintah, sekarang malah merusak fasilitas umum,” ungkap salah seorang warga sekitar berinisial ASD.
Menurut warga, persoalan tersebut tidak semestinya dianggap sepele. Sebab, fasilitas umum dibangun menggunakan anggaran negara yang semestinya dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Apalagi jika benar terdapat bagian jembatan yang sengaja digempur untuk kepentingan akses kendaraan Sound Horeg, maka hal tersebut dinilai perlu mendapatkan penjelasan secara terbuka dari pihak penyelenggara maupun pemerintah setempat.
Selain persoalan jembatan, warga juga meminta transparansi terkait informasi biaya perizinan yang mencapai Rp25 juta. Mereka berharap pihak terkait menjelaskan secara rinci peruntukan dana tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Warga Desak Pemkab Turun Tangan
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui instansi terkait segera turun ke lapangan untuk mengecek kondisi jembatan serta memastikan keamanan jalur yang akan digunakan kendaraan pengangkut Sound Horeg.
Masyarakat juga meminta agar penyelenggaraan kegiatan tidak menimbulkan kerugian terhadap lingkungan maupun fasilitas publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara mengenai informasi biaya perizinan maupun dugaan penggempuran bagian jembatan tersebut. (Tim Sembilan)





